Hari raya Idul Fitri 1 Syawwal 1436 / 17 Juli 2015. Merayakan dalam perjalanan.
Kamis, 16 Juli 2015
Sabtu, 11 Juli 2015
MalamMu (Lailatul Qadr)
MalamMu
(Lailatul Qadr)
Tuhan, kapan malam itu kau turunkan?
Malam inikah malaikatMu Engkau turunkan?
Malam inikah malam istimewa itu?
Malam seribu bulan yang didambakan.
Ijinkan hamba hina ini memandang langit pada malam itu.
Sekedar menangis memohon ampunanMu.
Atau mencoba memujiMu walau tak seindah pujianMu.
Walau tak pantas hambaMu ini memohon lebih.
Namun, memang hanya itu yang hamba bisa, hanya itu.
Memohon untuk Engkau ijinkan hamba memohon padaMu.
Oh Tuhanku, hambaMu yang berdosa ini memohon malamMu.
Bogor. Sabtu 11 Juli 2015.
Malam ke-25 Ramadlan 1436
Malam Dua Puluh Lima
Malam Dua Puluh Lima
Hujan . . .
Membawa ketenangan bathin.
Menyejukkan jiwa menggugah hati.
Mengerinyit hati ini melihat tanah basah.
Tempat tubuhku berteduh sa'at nanti arwah dalam barzah.
Tik, tik, tik seirama detak jantungku yang memujiMu Tuhanku.
Allahu akbar, besar kuasaMu terlihat jelas pada setiap ciptaanMu.
Malam sejuk sepi damai dalam ramai jama'ah bertakbir padaMu.
Dua puluh empat hari ramadlanMu hamba jalani dengan penuh luka, cacat dan ketidaksempurnaan hatiku.
Ampuni hamba yang mendlolimi diri ini.
Hati ini utuh milikMu yaa Allah.
Tak mampu aku menjaganya tanpaMu.
Sucikan hati ini menyongsong hari fitri dariMu.
Aaah. Sunyi malam memeluk jiwaku untuk mengingatMu
Hujan ini membasahi hatiku untuk bersyukur padaMu
Malam ini sungguh mengetuk bibir untuk bertakbir. Allahu akbar.
Terima kasih Allah.
Malam ke-25 Ramadlan 1436
Besar Cintamu. Cipt. Suaibah
Besar Cintamu
Tutur katamu bagai irama syahdu.
Perbuatanmu seindah mutiara yang berkilau.
Akhlakmu selembut sutera.
Memang engkau sebaik-baik idola.
Yaa rasulallah...
Perjuanganmu untuk umatmu begitu besar.
Penuh caci dan maki.
Namun engkau tetap membela ummatmu.
Yaa rasulallah...
Rindu aku padamu.
Hingga ku tak kuasa menahan air mata.
Ketika mengingat pengorbananmu yang pedih.
Besar anganku berjumpa denganmu.
Tapi siapalah aku ?
Ku lantunkan shalawat untukmu.
Berharap engkau beri syafa'at kepadaku.
Teringat sebuah cerita.
Ketika engkau meninggalkan dunia fana.
Siapa yang engkau khawatirkan wahai rasulallah?
Engkau hanya mengkhawatirkan umatmu, bukan dirimu yaa rasulallah.
Wahai kekasih Allah...
Semakin bertambah cintaku padamu.
Semakin tak tertahan rinduku padamu.
Hingga meluap-luap bagai air terjun yang terus mengalir deras...
Ketika engkau dilempari kerikil.
Apa yang engkau katakan pada Jibril.
Jangan balas mereka, mereka belum tahu mana yang benar.
Padahal Jibril sangat ingin membalasnya.
Begitu besar cintamu pada kami yaa rasul.
Bagaimana kami membalasmu.
Hanya mengingat, menangis, bershalawat dan menjalankan sunnahmu yang dapat kami lakukan.
Itupun tak sebanding dengan perjuanganmu...
Suaibah Aslamiah.
July, 11th 2015
Air Matanya
Air Matanya
Mampukah kau melihat jelas air mata di pipinya?
Mampukah kau tetap menggenggam egomu?
Mampukah kau mendengar suara tersedu-sedu tangis?
Mampukah kau tetap mengabaikannya?Kau membuatnya menangis.
Dia yang selalu menemani harimu.
Dia yang selalu Memeluk jiwa terlukamu.
Kau teteskan air mata dari mata nya.
Peluk Dia! Jangan pernah melukainya.
Apa otakmu telah rusak?
Apa hatimu telah hancur?
Siapa yang akan memelukmu seperti itu selain wanita itu?
Usap air matanya seperti dia selalu menghiburmu.
Jangan lagi kau bocorkan air matanya yang tak bersalah itu.
Wanita terindah dalam hidupmu.
Dialah yang menjadi sandaran hatimu yg terluka.
Sa’at semua pergi tak lagi ada di sampingmu.
Semoga dialah bagian dari tulang rusukmu.
Bogor. Sabtu 11 Juli 2015. 05:00pm
Sampah
Sampah
Hanya karena kau takut Tak mampu membaca setiap kata dalam puisi ini.
Hanya karena kau takut mengeja dengan kesalahan.
Karena takut mengartikan lirik ini dengan kesalahan.
Karena itu kau sudi menyakitiku lagi ?
Egois!
Sayangku Tak berarti. Rinduku tiada kau nikmati.
Cintaku kau ludahi dengan keegoisanmu.
Ah iya hanya marahku yang kau takuti bukan sedihku yang kau tanyakan.
Luka membeku tak tersapa angin.
Kau tumpuki dengan kecewa yang kau beri.
Hanya karena egoismu tak peduli sakitku.
Egoismu tak peduli hatiku.
Tega kau tinggalkan Aku sendiri dalam luka.
Menangisi lara yang tak ku rasa reda.
Kau tinggalkan aku karena ego mu.
Apa yang sedang ki tuliskan ?
Puisi? Puisi sampah. Hanya sampah.
Siapa peduli dengan ini ? Bagiku kepuasanlah yang ku ingin genggam.
Ah puisi sampah!
Sudah. Jangan kalian baca lagi sampah ini!
Dasar penikmat sampah!
Bogor. Sabtu 11 Juli 2015 12:57pm
Pergilah Luka
Pergilah Luka
Cukup resah hatiku yg menyiksa.
Sudah penuh sudah gelisah ini.
Tiada lagi ruang bahagia ku temui sa’at ini.
Tiap sudut yang kuraba hanya luka ku jumpai.
Mataku tak mampu melawan air mata ini.
Membobol ketegaran hati.
Lemas ragaku karena sakit hati ini.
Namun seakan hatiku enggan menatap batunya.
Ku mohon luka, pergilah saja !
Aku disini tiada tempat bercurah hati.
Aku disini sendiri memang sendiri.
Pergilah luka Jangan kau melukai !
Hati yang tiada menemani.
Hati yang selalu sendiri melawan luka.
Bogor. Sabtu 11 Juli 2015
Jumat, 10 Juli 2015
Dalam
DalamBerputar-putar tenggelam dalam angan dalam.
Bercinta dengan lara.
Hati yang memeluk luka.
Air mata telah melepas asa.
Ooohh sayangku, teman jiwaku yang tersiksa.
Menyiksa luka.
Menampar duka.
Terpenjara dalam jurang dalam, dalam dalam.
Sedalam mata terpejam.
Tenggelam tersesat malam.
Bogor, 11 Juli 2015 09:57 am
#drpada tersesat tidur lg ah.
Awan
Awan
Tersenyum dalam keikhlasan.
Hatimu yg penuh keindahan.
Persahabatan ini dalam ikatan.
Indah yg pernah ku genggam.
Bagai awan kau teduhi hati ini.
Bagai awan kau datang bersama mentari.
Terkadang malam kau ternilai.
Namun tetap kau ada dan setia menatapku.
Indah persahabatan yang kau beri.
Ku peluk erat dalam hati.
Melangkahkan jiwa kita bersama.
Nada puisi ini untuk sang awan disana.
Nada yang tak seindah kecerahan jiwa ini.
Gambaran rasa terima kasih dari hati ini.
Bogor. Sabtu, 11-Juli-2015
Jumat, 03 Juli 2015
Langganan:
Komentar (Atom)
