Lembaran Kertas
Terhenti nafasku, terlihat oleh mataku.
Tulisan samar pada lembaran kertas itu.
Entah dari mana dia masuk, mendadak teringat Vespa buluk.
Yang terjual untuk menggenggam kwitansi pembayaran kuliahku.
Ku dengar bisikan lirih dalam otakku
"Kamu hanya pecundang yang sok berjuang".
"Kamu hanya sampah yang sok berdiri melawan kemunafikan".
Ternyata benar bisikan otakku, begitulah lembaran kertas itu mencaciku.
Dia meludahi jerih payah perjuanganku hanya karena kejujuranku yang menyakiti mereka di balik lembaran kertas itu.
Otakku melepuh, nafasku meninggi, emosiku terkobar, bibirku melaknat, namun nurani mema'afkan.
Darahku mengalir sangat cepat ke otak, secepat mesin fotocopy menyalin selembar surat.
Namun, secepat itu pula aku meredam dendam.
Biarkan saja mereka memukulku lumpuh.
Aku masih membutuhkan mereka.
Aku butuh mereka untuk menyaksikan kesuksesanku nanti.
__________________________
(Allahu Akbar. Ternyata benar, pengalaman mengajariku bahwa
Namun aku sadar, kemenangan di dunia bukanlah pertanda kebenaran di pihak pemenang.)
Sarang, Ahad 19-April-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar