Sabtu, 11 Juli 2015

Air Matanya

Air Matanya
Mampukah kau melihat jelas air mata di pipinya?  
Mampukah kau tetap menggenggam egomu?  
Mampukah kau mendengar suara tersedu-sedu tangis?  
Mampukah kau tetap mengabaikannya?Kau membuatnya menangis. 
Dia yang selalu menemani harimu. 
Dia yang selalu Memeluk jiwa terlukamu. 
Kau teteskan air mata dari mata nya. 
Peluk Dia! Jangan pernah melukainya. 
Apa otakmu telah rusak?  
Apa hatimu telah hancur?  
Siapa yang akan memelukmu seperti itu selain wanita itu?  
Usap air matanya seperti dia selalu menghiburmu. 
Jangan lagi kau bocorkan air matanya yang tak bersalah itu. 
Wanita terindah dalam hidupmu. 
Dialah yang menjadi sandaran hatimu yg terluka. 
Sa’at  semua pergi tak lagi ada di sampingmu. 
Semoga dialah bagian dari tulang rusukmu.


Bogor. Sabtu 11 Juli 2015. 05:00pm

Sampah

Sampah
Hanya karena kau takut Tak mampu membaca setiap kata dalam puisi ini. 
Hanya karena kau takut mengeja dengan kesalahan. 
Karena takut mengartikan lirik ini dengan kesalahan.  
Karena itu kau sudi menyakitiku lagi ? 
Egois!  
Sayangku Tak berarti. Rinduku tiada kau nikmati.  
Cintaku kau ludahi dengan keegoisanmu. 
Ah iya hanya marahku yang kau takuti bukan sedihku yang kau tanyakan. 
Luka membeku tak tersapa angin. 
Kau tumpuki dengan kecewa yang kau beri. 
Hanya karena egoismu tak peduli sakitku. 
Egoismu tak peduli hatiku. 
Tega kau tinggalkan Aku sendiri dalam luka. 
Menangisi lara yang tak ku rasa reda. 
Kau tinggalkan aku karena ego mu. 
Apa yang sedang ki tuliskan ? 
Puisi?  Puisi sampah. Hanya sampah. 
Siapa peduli dengan ini ? Bagiku kepuasanlah yang ku ingin genggam. 
Ah puisi sampah! 
Sudah. Jangan kalian baca lagi sampah ini! 
Dasar penikmat sampah!


Bogor. Sabtu 11 Juli 2015 12:57pm

Pergilah Luka

Pergilah Luka
Cukup resah hatiku yg menyiksa. 
Sudah penuh sudah gelisah ini. 
Tiada lagi ruang bahagia ku temui sa’at ini. 
Tiap sudut yang kuraba hanya luka ku jumpai. 
Mataku tak mampu melawan air mata ini. 
Membobol ketegaran hati. 
Lemas ragaku karena sakit hati ini. 
Namun seakan hatiku enggan menatap batunya. 
Ku mohon luka, pergilah saja ! 
Aku disini tiada tempat bercurah hati. 
Aku disini sendiri memang sendiri. 
Pergilah luka Jangan kau melukai ! 
Hati yang tiada menemani. 
Hati yang selalu sendiri melawan luka.



Bogor. Sabtu 11 Juli 2015

Jumat, 10 Juli 2015

Dalam

Dalam
Berputar-putar tenggelam dalam angan dalam. 
Bercinta dengan lara. 
Hati yang memeluk luka. 
Air mata telah melepas asa. 
Ooohh sayangku, teman jiwaku yang tersiksa. 
Menyiksa luka. 
Menampar duka. 
Terpenjara dalam jurang dalam, dalam dalam. 
Sedalam mata terpejam. 
Tenggelam tersesat malam.



Bogor, 11 Juli 2015 09:57 am

#drpada tersesat tidur lg ah. 

Awan

Awan
Tersenyum dalam keikhlasan. 
Hatimu yg penuh keindahan. 
Persahabatan ini dalam ikatan. 
Indah yg pernah ku genggam. 
Bagai awan kau teduhi hati ini. 
Bagai awan kau datang bersama mentari. 
Terkadang malam kau ternilai. 
Namun tetap kau ada dan setia menatapku. 
Indah persahabatan yang kau beri. 
Ku peluk erat dalam hati. 
Melangkahkan jiwa kita bersama. 
Nada puisi ini untuk sang awan disana. 
Nada yang tak seindah kecerahan jiwa ini. 
Gambaran rasa terima kasih dari hati ini.


Bogor. Sabtu, 11-Juli-2015


Sabtu, 27 Juni 2015

Biarkanlah

Biarkanlah

Rindu ini tak mungkin ku biarkan 
Rindu ini untukmu yang ku sayang 
Tak mungkin ku akan bisa melupakan dan menghilang 
Rasa yang tertanam dalam dalam di hati ini 
Biarkanlah mereka berkata yang ingin mereka katakan pada kita dan hubungan kita 
Biarkan mereka mencaci apa yang kita rasakan 
Birakan mereka memberi duri dalam hubungan ini 
Kita tak akan sedikitpun kembali melangkah mundur kan ? 
Hubungan ini tak seperti setan dalam benak mereka 
Hubungan ini tak berawal dan berujung dosa yang menyakitkan 
Namun indah dalam hati yang sehat dan saling menjaga martabat 
Biarkanlah, biarkan mereka terus mengejar kita 
Tuhanlah  yang Maha mengerti apa yang ada dalam hati kita 
Bukan presiden dan bukan penguasa yang mereka anggap bisa membunuh kita


 

Sarang. Rabu, 16 Juli 2014